Minggu, 19 Mei 2013

makalah prinsip-prinsip kelas kata


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
 Kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas satu suku kata atau lebih. Kata dibentuk dari gabungan bermacam-macam suku kata.  Suku kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas 11 macam bentuk suku kata. Istilah kata sering kita dengar dan gunakan. Dalam tata bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah satuan yang disebut kata . Apakah  kata itu, bagaimana kaitannya dengan morfem, bagaimana batasan, bagaimana penentuan serta klasifikasi kata tersebut. Malah barangkali kata kata ini hampir setiap hari dan setiap saat digunakan dalam segala keperluan dan kesempatan. Tetapi kalau ditanya apakah kata itu? Maka jawabnya barangkali tidak semudah menggunakannya. Para linguis yang sehari-hari yang bergelut dengan bahasa ini, hingga dewasa ini, kiranya tidak pernah mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang disebut kata.
Konsep kata yang sering kita jumpai dalam berbagai buku linguistik adalah bahwa kata merupakan bentuk yang ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai mobalitas di dalam kalimat. Dal studi kelas kata . Dalam studi kelas kata, konsep kata perlu dijelaskan tanpa harus mengabaikan tentang ciri-ciri kata. Kata harus dilihat sebagai satuan sintaksis, bukan sebagai satuan leksikal atau semantis. Jadi kata berbeda leksem dan semem. Bila ada penulis yang mendefinisikan “ kata” benda sebagai kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan manakala membuat kategorisasi semem, bukan kata sebagai satuan sintaksis, kata hanya salah satu tataran dari gramatikal.
1
 
Pembahasan tentang suatu kelas kata tidak dapat mengabaikan wujud gramatika. Gramatika, khususnya sintaksis boleh diibaratkan suatu kerangka. Kerangka ini baru berarti dalam bahasa sebagai alat komunikasi bila kerangka itu
2
 
ada “ dagingnya”  dan yang berperan sebagai subtansi gramatika adalah leksem yang merupakn bagian dari leksikol. Dalam penyelidikan sintaksis terbukti bahwa satuan diatas kata yaitu frase, klausa, dan kaliamt, dapat berperilaku sama dengan kata.
Berdasarkan uraian di atas dapat kita lakukan beberapa kajian yang berkenaan dengan hakikat kata, batasan kata, penentuaan dan pembentukan kata, serta klasifikasi kata. Yang mana berbagai sumber yang dicari berdasarkan sumber-sember yang sudah ada seperti referensi dari buku dan sumber lainnya.
1.2  Rumusan Masalah
  1. Bagaimana hakikat kata ?
  2. Bagaimana batasan dalam kata ?
  3. Bagaimana cara pembentukan  kata ?
  4. Bagaimana klasifikasi kata ?
1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagi berikut :
  1. Untuk mengetahui bagaimana hakikat kata
  2. Untuk mengetahui bagaimana batasan dalam kata
  3. Untuk mengetahui bagaimana cara  pembentukan kata
  4. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi kata
1.4  Manfaat Penulisan
Secara sederhana makalah ini dapat bermanafaat bagi beberapa pihak antara lain :

  1. 3
     
    Mahasiswa
Dengan adanya penulisan makalah ini penulis harapkan mahasiswa khususnya program studi pendidikan bahasa Indonesia dapat mengetahui bagaimana hakikat kata, bagaimana batasan dalam kata, bagaimana cara pembentukan kata, serta bagaimana klasifikasi kata.
  1. Dosen
Dengan adanya makalah ini penulis harapkan para dosen bisa mengetahui lebih jauh lagi tentang kata walaupun sebelumnya sudah mengetahui apakah kata itu ? tetapi penulis harapkan makalah ini dapat memperbanyak dan menambah ilmu pengetahuan tentang kata bagi para  dosen..
  1. Penulis
Dengan adanya makalah yang penulis tulis. Maka makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis untuk mengetahui berbagai macam persoalan tentang pembahasan kata. Dari pembahasan yang belum penulis ketahui maupun sudah diketahui. Serta makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi penulis.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Kata
      Istilah kata sering kita dengar dan gunakan. Malah barangkali kata kata ini hampir setiap hari dan setiap saat digunakan dalam segala keperluan dan kesempatan. Tetapi kalau ditanya apakah kata itu ? Maka jawabnya barangkali tidak semudah menggunakannya. Para linguis yang sehari-hari yang bergelut dengan bahasa ini, hingga dewasa ini, kiranya tidak pernah mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang disebut kata. Menurut KBBI (2008 : 633) “kata merupakan morfem atau kombinasi morfem yang oleh bangsawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan dalam bentuk bebas atau satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem”. Kata kata dari bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sanskerta katha. Dalam bahasa Sansekerta, katha bermakna “konversasi”,”bahasa”,”cerita”atau “dogeng”.
Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi. Kata adalah satuan bahasan yang memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan mempunyai satu arti.
Para tata bahasawan struktural terutama penganut Bloomfield memberi pengertian tentang kata berdasarkan batasan kata yang dibuat mereka . Kata merupakan satuan bebas terkecil ( a minimal free from ) tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu bersifat final.
Selanjutnya menurut Abdul Chaer ( 2008 : 63)  kata merupakan bentuk yang  ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai mobilitas dalam kalimat.
Hal senada juga dinyatakan dalam buku Prof. Dhs. M. Ramlan  (2009 : 33) kata merupakan satuan bebas yang palin terkecil.


4
 
 

5
 
Merujuk dari pendapat di atas dapat penulis simpulkan  bahwa kata pada hakikatnya merupakan satuan gramatika terkecil yang merupakan gabungan dari beberapa suku kata sehingga membentuk kata dan memiliki satu arti ataupun pengertian.
2.2 Batasan Kata
            Dalam pembentukan kata terdapat beberapa macam batasan kata yaitu sebagai berikut :
  1. Setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak berubah serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain. Misalnya kata sikat , urutan fonemnya /s/,/i/,/k/,/a/,dan /t/. Urutan itu tidak dapat diubah misalnya menjadi /s/,/k/,/a/,/i/,dan /t/ atau diselipi fonem lain.
  2. Setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain atau juga dapat dipisahkan dari kata lainnya. Misalnya kaliamat nenek membaca komik itu kemarin. Kalimat itu terdiri dari lima kata yaitu nenek, membaca, komik, itu, dan kemarin. Posisi kata kemarin dapat dipindahkan, umpamanya menjadi kemarin nenek membaca komik itu.
2.3  Penentuan atau Pembentukan Kata
Pembentukan kata mempunyai dua sifat yaitu sebagai berikut :
  1. Inflektif
Inflektif merupakan perubahan bentuk kata dalam bahasa fleksi yang menunjukkan berbagai hubungan gramatiakal seperti deklinasi, nomina, pronomina, adjektiva dan konjungasi. Kata-kata dalam bahasa-bahasa berflektif, seperti bahasa Arab, bahasa Latin, dan bahasa Sanskerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan katagori-katagori gramatika yang berlaku dalam bahasa itu. Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks atau juga berupa modifikasi internal,yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu.
6
 
            Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konjugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi. konjugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala (tense), aspek, modus, diatesis, pesona, jumlah, dan jenis sedangkan deklinasi biasanya berkenaan dengan jumlah, jenis, dan kasus. Dalam buku-buku tata bahasa bahasa berfleksi, pembahasan biasanya hanya berkisar pada konjugasi dan deklinasi ini saja. Disini akan diberikan sekedar contoh konjugasi dan deklinasi itu.
            Verba bentuk infinitif bahasa Latin amare  ‘mencintai’ untuk pesona pertama tunggal,modus indikatif aktif ,bentuknya untuk kala (tense) yang berbeda adalah sebagai berikut:
Kata                Bentuk                        Arti
Presen              amo                 aku mencintai
Futura              amabo              aku akan mencintai
Perfekta           amavi               aku (telah) mencintai
Sedangkan untuk kala kini (present) modus indikatif  untuk pesona yang berbeda, bentuk amare itu akan menjadi sebagai berikut:
Orang I tunggal           amo                 saya mencintai
Orang I jamak             amamus           kami (kita) mencintai
Orang II tunggal         amas                engkau mencintai
Orang II jamak            amatis              kamu (sekalian) mencintai
            Bentuk-bentuk kata yang berbeda itu seperti amo, amamus, amas, dan amatis sesungguhnya memilliki identitas leksikal yang sama. Jadi, berarti adalah sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda.
            Deklinasi atau perubahan bentuk pada kata benda kita lihat contoh dari bahas Latin. Untuk kasus nominal tunggal dan jamak sebagai berikut:
Tunggal
Nominatif        :           dominus                      ‘tuhan’ (subjek)
Genitif             :           dominasi liber              ‘buku (milik) tuhan’
                                    dominorum
7
 
Datif                :           domino                        ‘kepada tuhan’
Akusatif          :           dominum                     ‘tuhan’ (objek)
Jamak
Nominatif        :           domini                         ‘tuhan-tuhan’
Genitif             :           dominorum liber          ‘buku (milik) tuhan-tuhan’
                                    Dominorum                
Datif                :           dominis                       ‘kepada tuhan-tuhan’
Akusatif          :           dominos                      ‘tuhan-tuhan’
            Sekarang kita lihat contoh deklinasi aktifa dalam bahasa Jerman. Ajektifa dalm bahasa Jerman mempunyai tiga macam konstruksi, yaitu:
            Pertama, konstruksi aktifa+nomina tanpa kata sandang atau pronomina apa-apa di daepannya (yaitu “deklinasi kuat dari ajektifa) perhatikan bentuk tunggal dan bentuk jamaknya!
Tunggal            Maskulin                   Feminin          Neutrum
                        ‘laki-laki baik’             ‘wanita baik’   ‘anak baik’
Nominatif      :    guter Mann              gute Frau         gutes Kind
Genitif          :  guten Mannes              guter Frau        guten Kindes
Datif             :  guten Manne               guter Frau        guten Kind (e)
Jamak             Semua Jenis
Nominatif     :  gute Manner/Frauen/Kinder
Genitif          :  guter Manner/Frauen/Kinder
Datif            :   guten Manner/Faruen/Kindem
            Kedua, berkonstruksi kata sandang definit + ajektifa + nomina (yaitu “ deklinasi lemah” dari ajektifa).
Tungal                        maskulin                     feminin                       neutrum
Nominatif    :   der gute Mann             die gute Frau   das gute  Kind
8
 
Genitif        :    des guten Manner       der guten Frau das guten Kindes
Datif           :    des guten Mann (e)     der guten Frau des guten  Kind(e)
Jamak                         Semua Jenis
Nominatif   :    die guten Manner/Frauen/Kinder
Genitif      :      der guten Manner/Frauen/Kinder
Datif         :      den guten Manner/Frauen/Kindem
            Ketiga, berkonstruksi kata sandang indekfinit + ajektifa + nomina (yaknu deklinasi campuran kuat dan lemah).
Tunggal          Maskulin                     Feminin                      Neutrum
Nominatif    :   ein guter Mann            eine gute Frau             ein gutes Kind
Genitif        :    einer guten Manner     einer guten Fru            eines guten Kindes
Datif           :    einen guten Manne      einer guten Frau          eines guten Kind(s)

            Bahasa Indonesia bukanlah bahasa berfleksi. Jadi, tidak ada masalah bagi konyugasi dan deklinasi dalam bahasa Indonesia. Namun, banyak penulis Barat termasuk Verhaar (1978) menyatakan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, terbaca, kaubaca dan bacalah adalah paradigma infleksional. Dengan kata lain, bentuk-bentuk tersebut merupakan kata yang sama, yang berarti juga mempunyai identitas leksikal yang sama. Perbedaan bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya. Dengan demikian, me-,di-,ter-,ku- dan kau- adalah infleksional.
  1. Derivatif        
Pembentukan secara derevatif atau derivisional merupakan pembentukan kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Contohnya dalam bahasa Indonesia dapat diberikan, misalnya dari kata air yang berkelas nomina dibentuk menjadi mengairi yang berkelas verba. Kemudian dari kata makan yang berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelaas nomina.perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama seperti kata makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi maknanya tidak sama.
9
 
Dalam pembentukan kata dapat terjadi dalam beberapa kata sehingga dapat membentuk suatu kata contohnya sebagai berikut :


 


               ber    atur       an  
            dari bagan pembentukan diatas dapat dilihat bahwa kata dalam bahasa Indonesia beraturan terjadi dalm dua tahap yaitu mula-mula pada dasar atur  diimbuhkan sufiks –an menjadi aturan . setelah iru dasar  aturan itu diimbuhkan pula denga prefiks ber- sehingga terbentuklah kata , yang memiliki arti   “mempunyai aturan”.
2.4  Klasifikasi Kata
Istilah lain yang biasa dipakai untuk klasifikasi kata adalah penggolongan kata, atau penjenisan kata. Dalam  peristilahan bahasa Inggris disebut part of spech.  Klasifikasi kata dpat dibagi berdasarkan :
1.      Kriteria makna atau semantik
Kriteria makna atau semantik dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelas kata sebagai berikut :
a.       Kelas verba
Kelas verba merupakan kelas kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadan. Juga sering disebut dengan kata kerja.contohnya belajar, meledak dan sebagainya.

b.     
10
 
Kelas nomina
Kelas nomina merupakan kelas kata dalam bahasa Indonesia ditandai oleh tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak. Juga sering berfungsi sebagai subjek atau objek dari klausa. Comtohnya rumah, kucing, meja dan sebagainya.
c.       Kelas ajektifa
Kelas ajektifa merupakan kata yang menerangkan nomina(kata benda) dan secara umum dapat digabung dengan kata lebih dan sangat. Contohnya beret, pendek, panjang dan sebagainya.
2.      Kriteria fungsi
Kriteria fungsi dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelas kata sebagai berikut :
a.       Kelas preposisi
Kelas preposisi merupakan kata yang bisa terdapat di depan nomina. Contohnya dari, dengan,di dan ke.
b.      Kelas konjugsi
Kelas konjungsi merupakan kata atau ungkapan penghubung  antarkata,antarfrasa,anatarklausa,dan anatarkalimat. Contohnya dan, sebaliknya dan karena.
c.       Kelas adverbia
Kelas adverbia merupakan kata yang memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif atau kalimat. Contohnya sangat, lebih, dan tidak.


d.     
11
 
Kelas pronomina
Kelas pronomina merupakan kata yang digunakan untuk menggantikan orang atau benda. Contohnya aku, engkau, dan dia.
e.       Kelas numeralia
Kelas numeralia merupakan kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urutan, dan himpunan. Contohnya satu, dua, tiga dan sebagainya.
f.       Kelas artikulis
Kelas artikulis atau kata sandang merupakan kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau pendefinitifkan sesuatu nomina,adjektifa, atau kelas lain. Contohnya si manis.
g.      Kelas interjeksi
Kelas interjeksi merupakan kata-kata mengungkapanperasan batin. Contohnya kata-kata singkat seperti wah,cih, dan sebagainya. Kemudian kata-kata biasa seperti alhamdulillah.
h.      Kelas partikel
Kelas partikel merupakan kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan  atau diinfleksikan, mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk didalamnya artikel, konjungsi, preposisi,dan interjeksi.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Menurut KBBI (2008 : 633) kata merupakan morfem atau kombinasi morfem yang oleh bangsawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan dalam bentuk bebas atau satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem. Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi. Sedangkan para tata bahasawan struktural terutama penganut Bloomfield memberi pengertian tentang kata berdasarkan batasan kata yang dibuat mereka . Merujuk dari pendapat di atas dapat penulis simpulkan  bahwa kata pada hakikatnya merupakan satuan gramatika terkecil yang merupakan gabungan dari beberapa suku kata sehingga memiliki satu arti ataupun pengertian.
Batasan-batasan yang digunakan dalam pembentukan kata Setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak berubah serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain. Serta setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain atau juga dapat dipisahkan dari kata lainnya. Selain itu Ada dua sifat yang digunakan untuk pembenmtukan kata yaitu Inflektif merupakan perubahan bentuk kata dalam bahasa fleksi yang menunjukkan berbagai hubungan gramatiakal seperti deklinasi, nomina, pronomina, adjektiva dan konjungasi. Sedangakan derivatif merupakan sifat dalam membentuk kata baru , kata yang leksikalnya tidak sama dengan kata dasar.
12
 
Dalam klasifikasi kata terbagi atas beberapa kelas kata berdasarkan kriteria yang digunakan. Kriteria makna atau semantik yang digunakan untuk megidentifiksi kelas verba, nomina, dan ajektifa. Sedangkan kriteria fungsi  yang digunakan untuk megidentifikasi kelas preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina, numerelia, artikulis, interjeksi dan artikel.
13
 
3.2 Saran
            Adapun saran yang diberikan pada akhir makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Mahasiswa
Dengan mengetahui beberbagai macam persoalan tentang kata mulai dari hakikat kata, batasan kata, pembentukan kata, serta klasifikasi kata. penulis harapkan kepada mahasiswa hendaknya agar dapat menggunakan ilmu yang di dapat dari makalah ini dengan sebaik-baiknya terutama dalam mengajarkan  serta mengaplikasikan pada siswa-siswinya nanti pada saat menjadi seorang guru.
  1. Dosen
Dengan tambahan ilmu atau pun pembahasan yang dibuat penulis ini. Hendaknya Bapak Ibu dosen lebih memberikan ilmu-ilmu atau masukan dalam makalah ini tentang pembahasan yang dibuat oleh penulis agar lebih sempurna lagi.
  1. Penulis
Dengan makalah yang ini penulis hendaknya dapat mengaplikasikan pembahasan makalah ini dengan sebaik-bainya agar ilmu-ilmu yang didapat dalam penulisan ini dapat bermanfaat dan berguna bagi dirinya maupun orang lain.



Daftar Pustaka
Moeliono. Anton M. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke IV. Jakarta :
             PT Gramedia Pustaka Utama.
Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ke III. Jakarta :
             Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Edisi ke III. Jakarta : Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Ramlan, M. 2009. Morfologi. Yogyakarta : CV Karyono


14
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar